Halaman Muka arrow Halaman Muka arrow Makrifatullah
Taman Sufi Dusuqy | Tuesday, 22 July 2014
Menu Utama
Halaman Muka
Rubrik
Secercah Cahaya
Lintas Situs
Buku Tamu
Hubungi Kami
Tentang Kami
Cari
Forum
Agenda Dasuqiyah
Pesan Singkat
Agenda Dasuqiyah
Agenda kosong
 
 
 
Makrifatullah Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Wednesday, 27 June 2007

Secara umum, Makrifatullah artinya Mengenal Allah. Dan kata-kata makrifat itu sendiri dalam bahasa arab mengandung makna ihathah yang artinya mengetahui secara penuh, maka makrifatullah dapat diartikan dengan mengenal atau mengetahui identitas zat Allah secara keseluruhan. Namun bila diartikan dengan sekedar mengenal eksistensi Allah maka siapapun dari kita pasti mampu mengetahui bahkan meyakini keberadaan-Nya, baik melalui berbagai kajian dan penelitian. Lalu bagaimana bila mengenal/mengetahui identitas Zat Allah dengan sempurna? Inilah yang mustahil! Walau melalui suluk dan banyak berdzikir dalam tarekat. Karena Rasulullah Saw. saja tidak mampu memuji Allah karena tidak mampu mengenal/mengetahui-Nya, sebab mampu memuji adalah tanda telah mengetahui. Beliau bersabda:

" لا أحصي ثناء عليك

أنت كما أثنيت على نفسك"

Jika Rasulullah Saw. yang menjadi makhluk termulia dan teragung di sisi Allah tidak mampu memuji Allah... Apakah kita yang sehina dan sekotor ini mengaku-ngaku telah Makrifatullah?

Allah Swt. berfirman:

" ولا يحيطون بشيء من علمه إلا بما شاء "

Kita tidak akan mampu mengetahui sedikit dari sebagian ilmu-ilmu Allah melainkan apa yang Ia kehendaki saja... Jikalau ilmu Allah masih banyak yang tidak kita ketahui... boro-boro ngetahuin zat-Nya?

Kesimpulannya: Makrifatullah adalah suatu hal yang 100% mustahil... siapapun dari para nabi, rasul dan wali tidak ada yang mampu mencapai Makrifatullah... dengan cara apapun, baik dengan mengikuti tarekat sufi ataupun yang lainnya!

Makanya para wali Allah dijuluki dengan al-Arif Billah, bukan dengan al-Arif Lillah... karena Makrifat Billah masih mungkin, yang artinya mengetahui dengan izin Allah. Kalau Makrifatullah artinya mengetahui Allah itu sendiri, nah itu yang mustahil!

Islam hanya memberikan tiga martabat saja; Islam, Iman dan Ihsan... Syari'at, Tarekat dan Hakekat. Kenapa yang keempat (martabat Makrifat) didatangkan? dan dari mana asal-usulnya? mau menyaingi pemberian Allah ya? Sekali lagi, makrifatullah merupakan suatu hal yang mustahil terjadi !! Bagaimana bisa mengenal/mengetahui identitas zat Allah yang maha suci sementara para nabi, rasul dan para wali tidak ada satupun yang menjangkaunya !! Rasulullah saja tidak mampu memuji-Nya sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits di atas, apakah kita berani mengaku-ngaku kenal Allah? Tahu Allah?

Oleh karena itu kita mengucapkan Allahu Akbar. Yang artinya bukan: Allah maha besar dari segala sesuatu (Allahu Akbar min kulli syai’) karena Allah bukanlah sesuatu (syai’) sehingga ukuran-Nya dibanding-bandingkan dengan ukuran sesuatu yang lain. Allah tidak berukuran besar atau panjang. Allah tak layak dibanding-bandingkan dengan makhluk-makhluk-Nya. Makna Allahu akbar adalah: Allah maha besar untuk diketahui (Allahu Akbar min an yu’raf). Allah itu muthlaq dan tidak muqayyad oleh ruang, waktu, ukuran, bentuk maupun berat. Allah maha suci dari itu semua. Allah tidak bisa diketahui oleh siapapun. Allah maha besar untuk dideteksi atau diukur atau dikenal secara sempurna. Apapun yang terlintas di benak kita tentang-Nya maka Dia maha besar dan maha suci dari itu semua “Subhana Rabbika Rabbil-izzati amma yashifun”. Syekh Abu Yazid al-Busthami Ra. pernah ditanya: Apakah Allahu Akbar berarti Allah maha besar dari yang selain-Nya (dari segala sesuatu / dari segala-galanya)? Beliau menjawab: Tidak ada sesuatupun bersama-Nya sehingga Ia menjadi lebih besar darinya. Beliau ditanya kembali: Lalu apa maknanya? Beliau menjawab: Allahu Akbar artinya Allah maha besar untuk dikias dengan manusia atau dijadikan sebagai alat mengkias atau dijangkau oleh panca indra (Akbar min an yuqasa binnas, aw yadkhula tahtal-qiyas aw tudrikahul-hawas).
Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 27 June 2007 )
 
Selanjutnya >

كَنْزِيَّة أَسْرَارُه بِقُلُوبِنَا
فَالحُبُّ كَنْزٌ والصَّفَا مِفْتَاحُ

Bejana yang terpatri dalam lubuk hati
Melalui kebeningan, itulah cinta sejati

 
Berita
Cafe Sufi ; Asah Nalar dengan Secangkir Dikir
Friday, 09 March 2007
Secangkir dzikir, itighatsah, telaah kitab klasik dan kajian khazanah Ke-Islaman, merupakan sederet menu khas yang disuguhkan oleh Cafe Sufi JATMNU Mesir dalam menyambut musim semi kali ini. Cafe lesehan yang dijamukan selepas Ashar setiap Jum'at di sekretariat PCI NU Mesir tersebut baru saja dibuka pada tanggal 2 Februari kemarin dan akan berlanjut sampai tanggal 20 April 2007.

Pengadaan Café tersebut tentunya dengan sebuah harapan yang sederhana; yaitu demi mencipta majlis dzikir yang lezat dan majlis bertukar fikir yang sehat. Karena Cafe Sufi, tidak sekedar menyuguhkan aroma dzikir saja, akan tetapi disana sebuah karya monumental Sang Sufi Imam Ghozali yang berjudul Ihya' Ulumuddin juga akan dikupas dengan pisau tela’ah ala ahlussunah waljama’ah yang paling steril. Lebih dari itu, Cafe Sufi juga menyediakan dampar khusus untuk membincang dan mengkaji seputar khazanah ke-Islaman, dengan mengundang beberapa tamu yang capabel terhadap menu utama kajian yang hendak disajikan.
Terakhir diperbaharui ( Friday, 30 March 2007 )
 
Burhamindo Rembug Agenda Musim Semi
Sunday, 04 February 2007

Dihadiri oleh sekitar 20 warga Burhamindo, pada hari Sabtu, tanggal 3 Februari 2007, di Markaz Agung Burhamindo telah diseleggarakan planning movement untuk membahas agenda pada musim semi. Dimulai dengan membahas agenda inti, yaitu mengaktifkan kembali murajaah khazanah tasawuf dan hadrah mingguan, disusul kegiatan ekstra berupa tahfidz al-Quran dan Kajian kitab, Rihlah Ruhiyah ke makam sidi syeikh Abulhasan al-syaduli ra, partisipasi abna’ dalam perluasan pembangunan Dar Burhamiyah pusat di Mazra’at el-Kiram, pendataan warga burhamindo, latihan al-Kiram Band, sampai ziarah ke salah satu muryid Burhamiyah yang sedang terbaring di rumah sakit di bilangan Ain Syams.

 
BURHAMINDO Turut Semarakan Harlah NU Ke-81
Sunday, 04 February 2007

Cairo- Pada hari Rabu tanggal 31 Januari, di Griya Jawa Tengah, segenap abna’ Tarekat Burhamiyah asal Indonesia yang selanjutnya dikenal dengan sebutan BURHAMINDO, ikut berpartisipasi dalam menyemarakan hari jadi NU yang ke 81. Dari acara istighatsah yang dipimpin oleh Syeikh Syamsul Hilal, selaku naib ‘am Burhamindo, siraman ruhani oleh syeikh Chusni hidayat, sampai sajian al-Kiram Band yang mendawaikan nada-nada ruhani, kasidah Sang sufi syeikh Muhammad utsman abduh al-Burhani Ra. Keikutsertaan Burhamindo dalam moment paling bersejarah untuk ormas terbesar di Indonesia tersebut berkat usulan Gus Habibi Mukhtar Ali, sebagai ketua JATMNU PCI-NU Mesir. Selain memperingati Harlah NU yang ke-81, gawe besar PCI-NU Mesir itu juga menjadi wahana warga nahdliyin dalam menyambut tahun baru 1428 Hijriyah dan Yaum Asyura. Berkat kerjasama yang apik dari LSBNU, Jantiko Mantab dan LDNU acara yang bertemakan "mempererat kembali ukhuwah nahdliyah" tersebut berhasil terlaksana dengan meriah dan sukses.

 
 
Artikel
Makrifatullah
Wednesday, 27 June 2007

Secara umum, Makrifatullah artinya Mengenal Allah. Dan kata-kata makrifat itu sendiri dalam bahasa arab mengandung makna ihathah yang artinya mengetahui secara penuh, maka makrifatullah dapat diartikan dengan mengenal atau mengetahui identitas zat Allah secara keseluruhan. Namun bila diartikan dengan sekedar mengenal eksistensi Allah maka siapapun dari kita pasti mampu mengetahui bahkan meyakini keberadaan-Nya, baik melalui berbagai kajian dan penelitian. Lalu bagaimana bila mengenal/mengetahui identitas Zat Allah dengan sempurna? Inilah yang mustahil! Walau melalui suluk dan banyak berdzikir dalam tarekat. Karena Rasulullah Saw. saja tidak mampu memuji Allah karena tidak mampu mengenal/mengetahui-Nya, sebab mampu memuji adalah tanda telah mengetahui. Beliau bersabda:

" لا أحصي ثناء عليك

أنت كما أثنيت على نفسك"

Jika Rasulullah Saw. yang menjadi makhluk termulia dan teragung di sisi Allah tidak mampu memuji Allah... Apakah kita yang sehina dan sekotor ini mengaku-ngaku telah Makrifatullah?

Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 27 June 2007 )
 
Adakah Wahyu Setelah Rasulullah?
Tuesday, 05 June 2007

Masihkah ada wahyu setelah wafatnya Rasulullah Saw.? Sangat mudah untuk menjawab pertanyaan seperti ini… Tidak ada! Alasannya tidak lain karena beliau adalah nabi dan rasul terakhir! Sayangnya, tergesa-gesa dalam memberi jawaban, sering mengakibatkan kekeliruan yang kebablasan! Apalagi bila tidak didahului oleh kecermatan dan ketelitian.

Wahyu adalah rahasia antara yang memberinya dengan yang menerimanya. Substansi maupun proses penerimaan wahyu itu pun bersifat sangat rahasia. Allah berfirman: “Yang maha tinggi derajat-Nya, yang mempunyai arsyi dan yang memberi wahyu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya”. Pemberi wahyu di sini dinamakan Muhiy, sedang penerima wahyu dinamakan Muha ilaih.

 
 
Lahzet Nour
Dialog Bersama Faqih Mikrolet
Tuesday, 05 June 2007
Dalam surat kabar al-Buhairah wal-Aqalim Mesir, edisi ke-164 tahun 2005, diceritakan bahwasanya sekelompok jamaah sufi menaiki sebuah kendaraan umum (mikrolet) untuk menuju tempat mempringati maulid sang wali kutub ketiga; Sidi Ahmad al-Badawi Ra. yang kemudian terjadilah dialog hangat antara jamaah dengan salah seorang penumpang mikrolet tersebut yang dijuluki sebagai faqih mikrolet :

Faqih mikrolet: “Pada mau kemana nih?

Salah seorang penumpang: “Kami mau menghadiri acara pringatan maulid”.

Faqih mikrolet : “Maulid siapa?

Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 23 January 2008 )
 
Keindahan yang Dikebiri*
Friday, 31 March 2006

Cahaya  tercipta, tentu sebagai penerang bagi manusia. Abjad terukir sebagai cikal bakal  teks tertulis dan sastra. Tangga nada teruntai sebagai asal muasal lantunan sebuah lagu. Kanvas tergores setelah terciptanya warna, dan hembusan kasih sayang menyemaikan cinta. Anugerah Allah SWT yang berupa cipta, rasa dan karsa bukanlah larangan, melainkan sebuah modal yang mendorong olah akal budi manusia dalam menciptakan sebuah kebudayaan yang akan tumbuh dan berkembang menjadi sebuah peradaban.

Terakhir diperbaharui ( Sunday, 21 January 2007 )
 
2
 
 
   
     

 

2007 Situs Tarekat Dusuqiyah Muhammadiyah Indonesia